Kebutuhan
By: agussyafii
Ada seorang marketing dealer sepeda motor yang sedang mencoba merayu seorang peternak sapi perah agar mau membeli sepeda motornya. peternak sapi itu menolak tawaran sang marketing dealer sepeda motor.
'Maaf Mas, daripada saya membeli sepeda motor lebih baik saya membeli sapi perah aja. kata peternak sapi.'
'Tapi pak, sebentar lagi mau lebaran lo pak. bapak akan terlihat aneh jika bepergian kemana-mana naik seekor sapi.' rayu marketing.
'Mas ini bagaimana sih? apa saya tidak lebih aneh lagi jika orang melihat saya memerah sebuah sepeda motor?' jawab bapak peternak sapi.
Begitulah kita dalam hidup. Tidak mungkin bila kita membutuhkan sapi perah, kita diberikan oleh Sang Khaliq sepeda motor. Apa ya mungkin kita memerah sebuah sepeda motor? jawabnya jelas tidak mungkin. Alloh SWT senantiasa mengabulkan doa2 hamba-hambaNya sesuai dengan yang dibutuhkannya.Sementara Kita hanyalah memerlukan apa saja yang menjadi kebutuhan kita. Alloh SWT senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan justru datangnya dari yang tidak kita sangka dan kita tidak duga. 'jangan menyerah' seperti syair lagu D'Massiv. Syukuri apa yg ada. hidup adalah anugerah. tetap jalani hidup ini. melakukan yg terbaik.'
--Barangsiapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan (yang dikehendaki) -Nya. Sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At Thalaq [65]: 2).Wassalam,Agussyafii
TendaSemangat
Tampilkan postingan dengan label Ceritanya.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritanya.... Tampilkan semua postingan
Selasa, Oktober 27, 2009
Tengoklah ke dalam by agus syafii
Tengoklah Ke Dalam
By: agus syafii, from milis
Setelah sekian lama hidup berkeluarga suami istri dihadapkan kepada masalah. Suaminya mengira masalah kehidupan rumah tangganya terletak pada istrinya. Sang suami mengira bahwa istrinya tuli.
Akhirnya suami pergi berkonsultasi kepada seorang dokter.
Dokter menyarankan ketika dirumah agar memanggil istrinya dalam jarak empat meter.
'Nanti kalo istri saya tidak menjawab, apa dia benar-benar tuli, dok?' tanya sang suami.
'oo..belum tentu..kalo jarak empat meter tidak menjawab, cobalah mendekat dengan jarak dua meter,' jawab dokter.
'Kalo masih tidak menjawab dok?" tanya lagi sang suami.'
Panggillah yang lebih dekat lagi, kalo masih tidak menjawab berarti istri anda tuli.' kata dokter.
Begitu sampai di rumah sang suami melihat istrinya sedang menyirami bunga di halaman rumahnya. Dari jarak empat meter suaminya menyapa, 'Hai, sayang sedang ngapain?'
Pertanyaannya tidak dijawab, suaminya jadi khawatir, istrinya benar-benar tuli. Kemudian suaminya mendekat dengan jarak dua meter memanggil istrinya. 'Sayang, bunganya indah sekali ya..'
Ternyata masih juga tidak mendengar jawaban istrinya. Dengan gagahnya suaminya berdiri mendekat disamping istrinya yang sedang menyiram bunga dan mengatakan dengan suara keras,
'Sayang, Sibuk ya? Lagi ngapain sih?',
Sang istri menoleh dengan wajah memerah menahan amarah dan mengatakan kepada suaminya. 'Kamu ini ada apa sih? sudah tiga kali aku bilang, sedang menyirami bunga, masih aja bertanya.'
Begitulah kita, seringkali kita beranggapan orang lain yang salah. Padahal sebenarnya kesalahan itu ada pada diri kita sendiri, terkadang kita tidak menyadari bahwa kesalahan itu terletak pada diri kita sendiri. Seperti lagu Ebiet G Ade, 'Tengoklah ke dalam sebelum bicara, singgirkan debu yang masih melekat.'
Prinsip 90/10 ala Stephen Covey, sangat simple menjelaskan dalam membantu kita menghadapi masalah. kita tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri kita.
Contohnya, kita tidak dapat menghindar dari kemacetan. Pesawat terlambat datang dan hal ini akan membuang seluruh schedule. Kemacetan telah menghambat seluruh rencana kita. Kita tidak dapat mengontrol kondisi 10 persen ini tetapi kita dapat mengontrol yang 90% . Yaitu cara kita bereaksi. Kita tidak dapat mengontrol lampu merah, tetapi kita dapat mengontrol reaksi kita. Itulah makna tengoklah ke dalam berarti bereaksi secara positif dalam menyikapi setiap masalah.
TendaSemangat
By: agus syafii, from milis
Setelah sekian lama hidup berkeluarga suami istri dihadapkan kepada masalah. Suaminya mengira masalah kehidupan rumah tangganya terletak pada istrinya. Sang suami mengira bahwa istrinya tuli.
Akhirnya suami pergi berkonsultasi kepada seorang dokter.
Dokter menyarankan ketika dirumah agar memanggil istrinya dalam jarak empat meter.
'Nanti kalo istri saya tidak menjawab, apa dia benar-benar tuli, dok?' tanya sang suami.
'oo..belum tentu..kalo jarak empat meter tidak menjawab, cobalah mendekat dengan jarak dua meter,' jawab dokter.
'Kalo masih tidak menjawab dok?" tanya lagi sang suami.'
Panggillah yang lebih dekat lagi, kalo masih tidak menjawab berarti istri anda tuli.' kata dokter.
Begitu sampai di rumah sang suami melihat istrinya sedang menyirami bunga di halaman rumahnya. Dari jarak empat meter suaminya menyapa, 'Hai, sayang sedang ngapain?'
Pertanyaannya tidak dijawab, suaminya jadi khawatir, istrinya benar-benar tuli. Kemudian suaminya mendekat dengan jarak dua meter memanggil istrinya. 'Sayang, bunganya indah sekali ya..'
Ternyata masih juga tidak mendengar jawaban istrinya. Dengan gagahnya suaminya berdiri mendekat disamping istrinya yang sedang menyiram bunga dan mengatakan dengan suara keras,
'Sayang, Sibuk ya? Lagi ngapain sih?',
Sang istri menoleh dengan wajah memerah menahan amarah dan mengatakan kepada suaminya. 'Kamu ini ada apa sih? sudah tiga kali aku bilang, sedang menyirami bunga, masih aja bertanya.'
Begitulah kita, seringkali kita beranggapan orang lain yang salah. Padahal sebenarnya kesalahan itu ada pada diri kita sendiri, terkadang kita tidak menyadari bahwa kesalahan itu terletak pada diri kita sendiri. Seperti lagu Ebiet G Ade, 'Tengoklah ke dalam sebelum bicara, singgirkan debu yang masih melekat.'
Prinsip 90/10 ala Stephen Covey, sangat simple menjelaskan dalam membantu kita menghadapi masalah. kita tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri kita.
Contohnya, kita tidak dapat menghindar dari kemacetan. Pesawat terlambat datang dan hal ini akan membuang seluruh schedule. Kemacetan telah menghambat seluruh rencana kita. Kita tidak dapat mengontrol kondisi 10 persen ini tetapi kita dapat mengontrol yang 90% . Yaitu cara kita bereaksi. Kita tidak dapat mengontrol lampu merah, tetapi kita dapat mengontrol reaksi kita. Itulah makna tengoklah ke dalam berarti bereaksi secara positif dalam menyikapi setiap masalah.
TendaSemangat
Kentang
Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnyauntuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia memintasetiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak,diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak maumereka maafkan.
Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, danmencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantungyang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.
Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang danmalam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantungitu, harus ada di sisi mereka kala tidur, di letakkan di meja saat belajar,dan ditenteng saat berjalan.
Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyakdari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampirsemua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu ituselesai.
Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.
pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritualyang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantungyang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa bebanitu,sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalahpekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana sajakita melangkah.
Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yangharus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dandendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, danmeruapkan aroma yang tak sedap,bisa jadi, itulah nilai yang akan kitadapatkan saat memendam amarah dan kebencian.
Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yangkita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa,pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuksebuah kebebasan.
Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dankedengkian hati.
dari milis cetivasi
TendaSemangat
Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, danmencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantungyang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.
Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang danmalam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantungitu, harus ada di sisi mereka kala tidur, di letakkan di meja saat belajar,dan ditenteng saat berjalan.
Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyakdari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampirsemua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu ituselesai.
Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.
pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritualyang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantungyang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa bebanitu,sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalahpekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana sajakita melangkah.
Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yangharus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dandendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, danmeruapkan aroma yang tak sedap,bisa jadi, itulah nilai yang akan kitadapatkan saat memendam amarah dan kebencian.
Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yangkita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa,pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuksebuah kebebasan.
Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dankedengkian hati.
dari milis cetivasi
TendaSemangat
Langganan:
Postingan (Atom)